Posts Subscribe comment Comments

0 komentar

Rute Pemberian Obat

Disamping faktor Formulasi, cara pemberian obat turut menentukan lambatnya dan lengkap tidaknya resorpsi obat oleh tubuh. Tergantung dari efek yang di inginkan, yaitu efek sistemis (di seluruh tubuh) atau efek lokal (setempat), keadaan pasien dan sifat sifat fisika kimia obat.

1.       Efek Sistemis

·         Oral
Pemberian melalui mulut.

·         Oromukosal
Pemberian obat melalui rongga mulut seperti bawah lidah (sublingual) dan antara pipi dan gusi (bucal).

·         Injeksi
Pemberian obat yang dilakukan secara parenteral atau menumbus kulit / selaput lender. Tindakan ini dapat memberikan efek kerja obat yang cepat.

·         Implantasi
Obat dalam bentuk pellet steril dimaukan ke bawah kulit dengan alat khusus (trocar), tindakan ini di gunakan untuk efek yang lama.

·         Rektal
Pemberian obat melaui rectal atau dubur.  Cara ini memiliki efek sistemik lebih cepat dan besar dibandingkan peroral dan baik untuk digunakan untuk obat yang mudah dirusak asam lambung.

·         Transdermal
Cara pemakaian melalui permukaan kulit berupa plester, obat menyerap secara perlahan dan kontinue masuk ke dalam peredaran darah.

2.       Efek Lokal (pemakaian Setempat)

·         Kulit (percutan).
·         Inhalasi.
·         Mukosa mata dan telinga.
·         Intra vaginal.
·         Intra nasal.
READ MORE - Rute Pemberian Obat

0 komentar

Macam macam Sediaan Obat

Berikut macam macam sedian obat berdasarkan dari dFarmakope Inndonesia Edisi IV, macam macam sedian umum tersebut sebagai berikut :

1.   Aerosol
Sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang dilepas pada saat system katup yang sesuai di tekan. Sedian ini digunakan untuk pemakaian topical pada kulit dan juga untuk pemakaian lokal pada hidung.

2.   Kapsul
Sediaan padat yang tediri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.

3.   Tablet
Sedian padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.

4.   Krim
Sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.

5.   Emulsi
Sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.

6.   Ekstrak
Sediaan pekat yang di peroleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simpliisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau hamper semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang ditetapkan.

7.   Gel (geli)
Sistem semi padat terdiri dari suspense yang di buat partikel anorganik yang kecil ayau molekul organic yang besar, terpenetrsai oleh suatu cairan.

8.   Imunoserum
Adalah sediaan yang mengandung immunoglobulin khas yang di perlukan dari serum hewan dengan pemurnian.

9.   Implan atau Pelet
Sedian dengan massa padat berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian tinggi (dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau pencetakan.

10. Infusa
Sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90’ selama 15 menit.

11. Inhalasi
Sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri dari satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut untuk memperoleh efek local atau sistemik.

 12. Injeksi
Sediaan steril untuk kegunaan parenteral, yaitu dibawah atau menembus kulit atau selaput lender.

13. Irigasi
Larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau ronggga rongga tubuh, penggunaan adalah secara topical.

14. Lozenges atau tablet hisap
Sediian padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.

15. Sediaan Obat mata
·         Salep mata
Salep steril yang digunakan pada mata.
·         Larutan Obat mata
Larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedimikian rupa hingga sesuai di gunakan untuk mata.

16. Pasta
Sediaan semi padata yang mengandung satu atau lebih bahan yang di tujukan untuk pemakaiaan topical.

17. Plester
Bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.

18. Serbuk
Campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, berupa serbuk yang dibagi bagi (pulveres) atau serbuk yang tak terbagi. (pulvis).

19. Solutio atau larutan
Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Taerbagi atas :
@     Larutan Oral
Sediaan cair yang dimasukan untuk pemberian oral.

§         Larutan tipikal
Sediaan cair yang dimasukan untuk penggunaan topical paad atau mukosa.

§         Larutan Otik
Sediaan cair yang dimasukan untuk penggunaan dalam telinga.

§         Larutan Optalmik
Sediaan cair yang digunakan pada mata.

§         Spirit
Larutan mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat yang mudah menguap.

§         Tingtur
Larutan mengandung etanol atau hidro alcohol di buat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.

20. Suppositoria
Sediaan padat dalam bergabai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rectal, vagina atau eretra, umunya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.




READ MORE - Macam macam Sediaan Obat

0 komentar

Farmakope atau Nama Obat

Farmakope adalah buku resmi yang di tetapkan hukum dan memuat standarisasi obat obat penting serta persyaratannya akan identitas, kadar kemurnian, dan sebagainya, begitu pula metode analisa dan resep sedian farmasi.

Pada tahun 1962 telah dikeluarkan buku yang mengandung bahan bahan galenika dan resep jilid 1 lalu di susul tahun 1965 dikeluarkan jilid ke II. Farmakope jilid 1 dan II telah di revisi menjadi Farmakope Indonesia jilid ke II yang mulai berlaku sejak 12 november 1972. Pada tahun 1979 terbit farmakope Indonesia edisi III kemudian Farmakope Indonesia edisi IV pada tahun 1966.

Obat peten atau spesialite adalah Obat milik suatu perusahaan dengan nama khas yang dilindungi hokum, yaitu merk terdaftar, atau proprietary name. banyak nya obat paten dengan beranaka ragam nama yang setiap tahun dikeluarkan oleh industry farmasi dan kekacauan yang di akibatkannya telah mendorong WHO untuk menyusun daftar obat dengan nama nama resmi. Official atau generic nama (nama generic) ini dapat digunakan semua Negara tanpa melanggar hak paten obat bersangkutan. Hampir semua farmakope sudah menyesuaikan nama obatnya dengan nama generik ini, karena nama kimia yang semula digunakan seringkali terlalu panjang dan tidak praktis.

Berikut contohnya : 

Nama Kimia                            Nama Generik                                    Nama Paten    
Asam asetilsalisilat                                Asetosal                                    Aspirin (Bayer)
                                                                                                                     Nasporo (Nicholas)
Aminobenzil Penisillin                            Ampisilin                                   Penbritin (Beecham)
                                                                                                                     Ampifen ( Organom)
READ MORE - Farmakope atau Nama Obat

1 komentar

Definisi Farmakologi

Farmakologi atau ilmu khasiat obat adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan obat dengan seluruh aspeknya, baik sifat kimiawi maupun fisikanya, kegiatan fisiologi, resopsi dan nasibnya dalam organism hidup. Ilmu khasiat ini mencangkup bebrapa bagian yaitu : 

1.      Farmakognosis
Mempelajari pengetahuan dan pengenalan obat yang bersal dari tanaman dan zat zat aktifnya yang berasal dari mineral dan hewan.

2.      Biofarmasi
Meniliti pengaruh formulasi obat terhadap efek terapeutiknya. Dengan kata lain dalam bentuk sediaan apa obat harus di buat agar menghasilkan efek yang optimal.

3.      Farmakokinetika
Meniliti perjalanan obat mulai dari saat pemberiannya, bagaimana absorpsi dari usus, transport dalam darah, dan distribusinya ketempat kerjanya dan jaringan yang lain.

4.      Farmakodinamika
Mempelajari kegiatan obat terhadap organism hduo terutama cara dan mekanisme kerjanya, reaksi fisiologi, serta efek terapi yang ditimbulkannya.

5.     Toksikolgi
Pengetahuan tentang efek racun dar obat terhadap tubuh dan sebetulnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek terapi obat berhubungan erat dengan efek toksiknya.

6.      Farmakoterapi
Mempelajari pengguanaan obat untuk mengobati penyakit atau gejalanya.

Obat obat yang digunakan dalam terapi dapat dibagi dalam tiga golongan besar, sebagai berikut :
1.      Obat Farmakodinamis
Yang bekerja terhadap tuan rumah dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses fisiologis atau fungsi biokimianya dalam tubuh, misalnya ; Hormon, diuretika, hipnotika, obat otonom.

2.     Obat Kemoterapeutis
Dapat membunuh parasit dan kuman dalam tuan rumah.hendaknya obat ini memiliki kegiatan farmakodinamika yang sekecil kecilnya terhadap organism tuan rumah dan memiliki efek sebesar besarnya terhadap sebanyak mungkin parasit.

3.     Obat Diagnostika
Merupakan obat pembantu untuk melakukan diagnosis (pengenalan penyakit), misalnya untuk mengenal penyakit pada lambung-usus digunakan barium sulfat.

READ MORE - Definisi Farmakologi

0 komentar

Sejarah Obat

Yang dimaksud dengan obat ialah semua zat baik kimia, hewani maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit nerikut gejala-gejalanya.

Kebanyakan obat yang digunakan di masa lampau adalah obat yang berasal dari tanaman. Dengan cara mencoba-coba, secara empiris orang purba mendapatkan pengalaman dengan berbagai macam dau atau akar tumbuhan untuk menyembuhkan penyakit.
Obat yang pertama di gunakan adalah obat yang berasal dari tanaman yang dikenal dengan sebutan obat tradisional (jamu). Obat-obat nabati ini digunakan senagai rebusanatau ekstrak dengan aktivitasnya yang sering kali berbeda tergantung dari asal tanaman dan cara pembuatannya.

Hal tersebut di anggap kurang memuaskan dan akhirnya lambat laun ahli-ahli kimia mulai mencoba mengisolasi zat zat aktif yang aterkandung dalam tanaman sehingga menghasilkan serangkaian zat zat kimia sebagai obat. Misalnya efedrin dari tanaman Ephedra vulgaris, morfin dari Papaver, digoksin dari digitalis lanata.

Pada permulaan abad XX mulailah dibuat obat obat sinesis, misalnya asetosal, disusul kemudian sejumlah zat zat yang lainnya. Permulaan sejati baru tercapai dengan penemuan dan pengguanaan obat kemoterapeutik (1935) dan penisillin (1940). Sejak ssat itula ilmu kimia, fisika, dan kedokteran terus berkembang denga pesat sampai saat ini.

Penemuan penemuan baru menghasilkan lebih dari 500 macam obat setiap tahunya, sehingga obat obat kuno senakin terdesak atau kata lainnya punah oleh obat obat yang baru. Kebnyakan obat obat yang digunakan di temukan disekitar 20 tahu yang lalu, sedangkan obat obat kuno di tinggalkan dan diganti dengan obar modern.
READ MORE - Sejarah Obat